Rabu, 27 Juli 2011

Membentangkan Sayap Hingga Candi-Candi Tulungagung

Sejarah Ini Bagusss Lo




animated119.gif


Dedikasi untuk membentangkan sayap travellers hingga ke kota tetangga kini mulai diwujudkan. Setelah beberapa waktu yang lalu kami melakukan perjalanan ke Pare untuk mengeksplorasi Candi Tegowangi dan Candi Surowono, kini kami mulai mengeksplorasi candi-candi yang berada di Kabupaten Tulungagung. Meski kami tak bisa menjamin apakah kelak kami akan mengeksplorasi candi-candi di Tulungagung secara keseluruhan atau hanya sebagaian saja.
Kami mohon maaf bila dalam pemaparan yang akan kami sampaikan berikut kurang tepat. Sebab kami memang bukan warga Tulungagung sehingga kami tidak mengetahaui legenda maupun sejarah mengenai candi-candi setempat. Meskipun demikian kami tidak asal-asalan membuat posting ini, kami berusaha mencari sumber terbaik untuk tulisan ini.
Candi Miri Gambar
Candi Mirigambar berada di Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol. Secara umum kondisi candi yang tersusun dari batu bata ini telah runtuh.  Meskipun demikian keindahan candi tersebut masih dapat dinikmati. Keindahan tersebut tercermin pada sisa-sisa reliefnya yang terpahat halus di permukaan batu bata. Relief yang terpahat di Candi Mirigambar ini mengisahkan tentang legenda Angling Dharma, sehingga candi ini sering juga disebut dengan sebutan Candi Angling Dharma.
Candi Mirigambar diperkirakan dibangun pada akhir abad XII hingga akhir abad XIV, sesuai dengan kronogram yang terpahat pada candi ini yakni 1214 Saka dan 1310 Saka.
——————————————————————————————————————————————-
Candi Sanggrahan
Secara administratif Candi Sanggrahan berada di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu. Tepatnya berada di antara pemukiman warga. Mengenai rute dan informasi selengkapnya tentang Candi Sanggrahan  dapat diakses pada halaman Rute dan Informasi.
Candi yang dikenal oleh sebagian masyarakat dengan sebutan candi cungkup ini, diriwayatkan dalam Kitab Negarakertagama sebagai tempat pendharmaan Bhre Paguhan dari masa Kerajaan Majapahit[1]. Sedang dalam cerita rakyat Sina Wijoyo Suyono, Candi Sanggrahan dikenal sebagai tempat yang dipergunakan untuk beristirahatnya rombongan pembawa jenazah Gayatri (Rajapadmi) sebelum didharmakan di Candi Gayatri[2].
Dari segi arsitektur, Candi Sanggrahan merupakan komplek percandian yang dibangun dari kombinasi batu bata dengan batu andesit. Komponen batu-bata secara umum mendominasi komplek percandian ini, yakni meliputi bagian selasar, gerbang, dan candi-candi perwara. Sedangkan batuan andesit hanya digunakan untuk menyusun bangunan utama.
Secara kenampakan Candi Sanggrahan memiliki kemiripan dengan Candi Surowono, yakni memiliki relief tantri di bagian kaki. Bahkan dimensi bentuknya juga serupa, baik bentuk muka dan tubuh bangunan yang memanjang ke belakang. Dibagian tubuh candi juga terdapat panil-panil. Panil panil tersebut biasanya berisi relief, namun panil-panil pada Candi Sanggrahan ini polos. Belum dapat dipastikan apakah panil-panil tersebut merupakan hasil dari renovasi dinas purbakala ataukah karena dulunya pembangunan candi ini belum selesai. Terus terang kami tidak menjumpai jurukunci Candi Sanggrahan, sehingga kami tidak memperoleh informasi yang akurat mengenai candi ini.
——————————————————————————————————————————————-
Goa Selomangleng
Seperti halnya Goa Selomangleng yang berada di Kota Kediri, Goa Selomangleng yang berada di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu ini hanyalah berupa cerukan pada sebuah batu. Dinding ceruk Goa Selomangleng ini berpahatkan relief arjunawiwaha, yakni relief yang mengisahkan tentang Bathara Indra yang mengutus bidadari untuk menggoda Arjuna yang sedang bertapa.
Yang unik dari Goa Selomangleng adalah keberadaan relief kala berukuran raksasa yang terpahat di atas pintu goa. Relief kala biasanya berada di ambang pintu ataupun di atas relung-relung candi, sehingga keberadaanya pada Goa ini dimungkinkan memiliki fungsi yang sama dengan yang terpahat di atas pintu candi pada umumnya.
——————————————————————————————————————————————-
Candi Gayatri
Candi Gayatri atau dikenal juga dengan Candi Boyolangu ini berada di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu. Candi Gayatri adalah komplek percandian yang terdiri dari candi induk dan dua buah candi perwara. Seluruh banguan pada komplek Candi Gayatri ini berbahan dasar batu bata, hanya beberapa komponen saja yang terbuat dari batu andesit, misalnya umpak dan arca.
Menurut kitab Negarakertagama candi ini merupakan tempat pendharmaan Gayatri. Semasa hidupnya Gayatri dikenal sebagai pendeta wanita Budha Kerajaan Majapahit dengan gelar Rajapadmi, sehingga Gayatri didharmakan sebagai Dhyani Budha Wairocana.  Candi tempat pendharmaan Gayatri ini bernama Pradjnaparamitapuri, dan dibangun pada tahun 1281 Saka hingga 1311 Saka sesuai dengan angka tahun yang terpahat pada umpak[1]. Pendirian Candi Gayatri yang bertahap tersebut dapat dilihat hingga kini, yakni adanya struktur hiasan candi yang tumpang tindih dengan struktur kaki candi.
——————————————————————————————————————————————-
Situs Makam Soka
UPDATE APRIL 23, 2011 OLEH TRAVELLERS2009
Situs Makam Soka merupakan situs peninggalan bersejarah yang terletak di Dusun Soka, Desa Karangsari, Kecamatan Rejotangan. Ditilik dari segi lokasinya, Situs Makam Soka memiliki kesamaan dengan Situs Makam Ki Ageng Sengguruh, yakni berada di area pemakaman umum. Situs bersejarah yang terletak di area pemakaman biasanya dianggap oleh masyarakat disekitarnya sebagai cikal bakal atau sadranan yang digunakan untuk upacara ritual dalam berbagai kegiatan. Kebudayaan seperti ini masih berjalan hingga sekarang, sehingga situs-situs seperti Situs Makam Soka masih jarang dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi maupun penelitian.
Situs Makam Soka terdiri dari sebuah prasasti, tumpukan batu-batu candi, dan beberapa batu dengan pahatan dan bentuk yang aneh. Berdasarkan catatan yang termuat dalam Inventaris Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak di Kabupaten Tulunggagung, diketahuai bahwa prasasti di Situs Makam Soka berangka tahun 1123 Saka atau 1201 Masehi. Sehingga kemungkinan besar Situs Makam Soka merupakan peninggalan sejarah dari era Kerajaan Kadiri.
Ada satu hal yang janggal pada prasasti yang ditengarahi berasal dari era Kerajaan Kadiri ini, yakni adanya lambang surya dalam prasati tersebut. Meski sedikit berbeda dengan Surya Majapahit, tetap saja keberadaan lambang surya tersebut menimbulkan keambiguan. Pasalnya prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Kadiri selalu mencatumkan lambang candrakapala, misalnya saja pada Prasati Panumbangan yang berada di Candi Plumbangan Blitar. Hingga kini belum ada titik terang mengenai kejanggalan tersebut, terutama karena masih minimnya data sejarah dan informasi dari masyarakat sekitar mengenai Situs Makam Soka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar