Rabu, 27 Juli 2011

Induk Candi Hindu Losari Ditemukan

MAGELANG – Balai Arkeologi berhasil menemukan induk candi Losari di Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah.
Sebelumnya, awal tahun 2007 lalu mereka hanya menemukan candi Pariwara atau anak candi yang berukuran 3 x 3 meter di sebuah kebun salak milik Badri, warga setempat. “Induk candi ini diperkirakan berukuran 9 x 9 meter,” terang Ketua Tim Peneliti Candi Losari Baskoro Danu Tjahjono, di Magelang, Selasa (26/8/2008).
Candi itu diperkirakan merupakan candi Hindu abad kesembilan. Kata Baskoro, induk candi itu berada di sebelah selatan anak candi. Selama ini, pihaknya masih terus melakukan pencarian serpihan-serpihan batu candi yang berserakan akibat banjir lahar Gunung Merapi.
“Terus terang kita sangat kesulitan saat melakukan penggalian dan perekonstruksian candi. Apalagi, lokasinya berada di kebun salak dengan tanah licin. Sehingga harus ekstra hati-hati,” katanya.
Dalam melakukan rekontruksi dan penggalian candi, Balai Arkeologi bekerjasama dengan Pemkab Magelang, Balai Pelestarian dan Perlindungan Peninggalan Purbakala (BPPP) Jateng serta sejumlah akademisi Universitas Gadjah Mada(UGM) jurusan Arkeologi.
“Untuk hari ini sekira 30 orang yang melakukan penggalian. Baik dari tenaga ahli maupun masyarakat,” sebutnya.
Pemilik kebun salak, Badri, mengatakan awal penemuan candi itu bermula saat dirinya membangun irigasi untuk mengairi sawah yang lokasinya jauh di atas permukaan sungai. “Saat saya melakukan penggalian, ternyata menemukan ratusan batu yang berserakan. Akhirnya saya langsung melanjutkan penggalian dan mengumpulkan batu-batu itu di rumah saya,” imbuhnya.
Setelah mengumpulkan hasil temuannya, Badri melapor ke kelurahan dan diteruskan ke Balai Arkeologi dan Balai Pelestarian dan Perlindungan (BPPP) Jateng. Temuan itu akhirnya ditindaklanjuti Balai Arkeologi Jogja bekerjasama dengan kampus UGM jurusan Arkeologi dengan mengadakan program pencarian dan rekontruksi dalam dua tahap.
“Tahap pertama bulan Januari 2007. Dilanjutkan pada tahap kedua pada Agustus 2008 ini,” tukasnya. (Muhammad Slamet/Sindo/ful)

C a n d i

C a n d i
Kata "candi" mengacu pada berbagai macam bentuk dan fungsi bangunan, antara lain empat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Buddha, pada masa yang lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia, sejak abad ke-5 sampai dengan abad ke-14.
Karena sjaran Hindu dan Buddha berasal dari negara India, maka  bangunan candi banyak mendapat pengaruh India dalam berbagai aspeknya, seperti: teknik bangunan, gaya arsitektur, hiasan, dan sebagainya. Walaupun demikian, pengaruh kebudayaan dan kondisi alam setempat sangat kuat, sehingga arsitektur candi Indonesia mempunyai karakter tersendiri, baik dalam penggunaan bahan, teknik kontruksi maupun corak dekorasinya. Dinding candi biasanya diberi hiasan berupa relief yang mengandung ajaran atau cerita tertentu.
Dalam kitab Manasara disebutkan bahwa bentuk candi merupakan pengetahuan dasar  seni bangunan gapura, yaitu bangunan yang berada pada jalan masuk ke atau keluar dari suatu tempat, lahan, atau wilayah. Gapura sendiri bisa berfungsi sebagai petunjuk batas wilayah atau sebagai pintu keluar masuk yang terletak pada dinding pembatas sebuah komplek bangunan tertentu. Gapura mempunyai fungsi penting dalam sebuah kompleks bangunan, sehingga gapura juga nencerminkan keagungan dari bangunan yang dibatasinya. Perbedaan kedua bangunan tersebut terletak pada ruangannya. Candi mempunyai ruangan yang tertutup, sedangkan ruangan dalam gapura merupakan lorong yang berfungsi sebagai jalan keluar-masuk.
Beberapa kitab keagamaan di India, misalnya Manasara dan Sipa Prakasa, memuat aturan pembuatan gapura yang dipegang teguh oleh para seniman bangunan di India. Para seniman pada masa itu percaya bahwa ketentuan yang tercantum dalam kitab-kitab keagamaan bersifat suci dan magis. Mereka yakin bahwa pembuatan bangunan yang benar dan indah mempunyai arti tersendiri bagi pembuatnya dan penguasa yang memerintahkan membangun. Bangunan yang dibuat secara benar dan indah akan mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi masyarakat. Keyakinan tersebut membuat para seniman yang akan membuat gapura melakukan persiapan dan perencanaan yang matang, baik yang bersifat keagamaan maupun teknis.
Salah satu bagian terpenting dalam perencanaan teknis adalah pembuatan sketsa yang benar, karena dengan sketsa yang benar akan dihasilkan bangunan seperti yang diharapkan sang seniman. Pembuatan sketsa bangunan harus didasarkan pada aturan dan persyaratan tertentu, berkaitan dengan bentuk, ukuran, maupun tata letaknya. Apabila dalam pembuatan bangunan terjadi penyimpangan dari ketentuan-ketentuan dalam kitab keagamaan akan berakibat kesengsaraan besar bagi pembuatnya dan masyarakat di sekitarnya. Hal itu berarti bahwa ketentuan-ketentuan dalam kitab keagamaan tidak dapat diubah dengan semaunya. Namun, suatu kebudayaan, termasuk seni bangunan, tidak dapat lepas dari pengaruh keadaan alam dan budaya setempat, serta pengaruh waktu. Di samping itu,  setiap seniman mempunyai imajinasi dan kreatifitas yang berbeda.
Sampai saat ini candi masih banyak didapati di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Sumatra, Jawa,  dan Bali. Walaupun sebagian besar di antaranya tinggal reruntuhan, namun tidak sedikit yang masih utuh dan bahkan masih digunakan untuk melaksanakan upacara keagamaan. Sebagai hasil budaya manusia, keindahan dan keanggunan bangunan candi memberikan gambaran mengenai kebesaran kerajaan-kerajaan pada masa lampau.
Candi-candi Hindu di Indonesia umumnya dibangun oleh para raja pada masa hidupnya. Arca dewa, seperti Dewa Wishnu, Dewa Brahma, Dewi Tara, Dewi Durga, yang ditempatkan dalam candi banyak yang dibuat sebagai perwujudan leluhurnya. Bahkan kadang-kadang sejarah raja yang bersangkutan dicantumkan dalam prasasti persembahan candi tersebut. Berbeda dengan candi-candi Hindu, candi-candi Buddha umumnya dibangun sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan untuk mendapatkan ganjaran. Ajaran Buddha yang tercermin pada candi-candi di Jawa Tengah adalah Buddha Mahayana, yang masih dianut oleh umat Buddha di Indonesia sampai saat ini. Berbeda dengan aliran Buddha Hinayana yang dianut di Myanmar dan Thailand.
Dalam situs web ini, deskripsi mengenai candi di Indonesia dikelompokkan ke dalam: candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, candi di Jawa Timur candi di Bali dan candi di Sumatra. Walaupun pada masa sekarang Jawa Tengah dan Yogyakarta merupakan dua provinsi yang berbeda, namun dalam sejarahnya kedua wilayah tersebut dapat dikatakan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Hindu, yang sangat besar peranannya dalam pembangunan candi di kedua provinsi tersebut. Pengelompokan candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta berdasarkan wilayah administratifnya saat ini sulit dilakukan, namun, berdasarkan ciri-cirinya, candi-candi tersebut dapat dikelompokkan dalam candi-candi di wilayah utara dan candi-candi di wilayah selatan.
Candi-candi yang terletak di wilayah utara, yang umumnya dibangun oleh Wangsa Sanjaya, merupakan candi Hindu dengan bentuk bangunan yang sederhana, batur tanpa hiasan, dan dibangun dalam kelompok namun masing-masing berdiri sendiri serta tidak beraturan beraturan letaknya. Yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya: Candi Dieng dan Candi Gedongsanga. Candi di wilayah selatan, yang umumnya dibangun oleh Wangsa Syailendra, merupakan candi Buddha dengan bentuk bangunan yang indah dan sarat dengan hiasan. Candi di wilayah utara ini umumnya dibangun dalam kelompok dengan pola yang sama, yaitu candi induk yang terletak di tengah dikelilingi oleh barisan candi perwara. Yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya: Candi Prambanan, Candi Mendut, Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Candi Borobudur.
Candi-candi di Jawa Timur umumnya usianya lebih muda dibandingkan yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, karena pembangunannya dilakukan di bawah pemerintahan kerajaan-kerajaan penerus kerajaan Mataram Hindu, seperti Kerajaan Kahuripan, Singasari, Kediri dan Majapahit. Bahan dasar, gaya bangunan, corak dan isi cerita relief candi-candi di Jawa Timur sangat beragam, tergantung pada masa pembangunannya. Misalnya, candi-candi yang dibangun pada masa Kerajaan Singasari umumnya dibuat dari batu andesit dan diwarnai oleh ajaran Tantrayana (Hindu-Buddha), sedangkan yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit umumnya dibuat dari bata merah dan lebih diwarnai oleh ajaran Buddha.
Candi-candi di Bali umumnya merupakan candi Hindu dan sebagian besar masih digunakan untuk pelaksanaan upacara keagamaan hingga saat ini. Di Pulau Sumatra terdapat 2 candi Buddha yang masih dapat ditemui, yaitu Candi Portibi di Provinsi Sumatra Utara dan Candi Muara Takus di Provinsi Riau.
Sebagian candi di Indonesia ditemukan dan dipugar pada awal abad ke-20. Pada tanggal 14 Juni 1913, pemerintah kolonial Belanda membentuk badan kepurbakalaan yang dinamakan Oudheidkundige Dienst (biasa disingkat OD), sehingga penanganan atas candi-candi di Indonesia menjadi lebih intensif.  Situs web ini direncanakan akan memuat deskripsi seluruh candi yang ada di Indonesia, namun saat ini belum semua candi dapat terliput.

Membentangkan Sayap Hingga Candi-Candi Tulungagung

Sejarah Ini Bagusss Lo




animated119.gif


Dedikasi untuk membentangkan sayap travellers hingga ke kota tetangga kini mulai diwujudkan. Setelah beberapa waktu yang lalu kami melakukan perjalanan ke Pare untuk mengeksplorasi Candi Tegowangi dan Candi Surowono, kini kami mulai mengeksplorasi candi-candi yang berada di Kabupaten Tulungagung. Meski kami tak bisa menjamin apakah kelak kami akan mengeksplorasi candi-candi di Tulungagung secara keseluruhan atau hanya sebagaian saja.
Kami mohon maaf bila dalam pemaparan yang akan kami sampaikan berikut kurang tepat. Sebab kami memang bukan warga Tulungagung sehingga kami tidak mengetahaui legenda maupun sejarah mengenai candi-candi setempat. Meskipun demikian kami tidak asal-asalan membuat posting ini, kami berusaha mencari sumber terbaik untuk tulisan ini.
Candi Miri Gambar
Candi Mirigambar berada di Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol. Secara umum kondisi candi yang tersusun dari batu bata ini telah runtuh.  Meskipun demikian keindahan candi tersebut masih dapat dinikmati. Keindahan tersebut tercermin pada sisa-sisa reliefnya yang terpahat halus di permukaan batu bata. Relief yang terpahat di Candi Mirigambar ini mengisahkan tentang legenda Angling Dharma, sehingga candi ini sering juga disebut dengan sebutan Candi Angling Dharma.
Candi Mirigambar diperkirakan dibangun pada akhir abad XII hingga akhir abad XIV, sesuai dengan kronogram yang terpahat pada candi ini yakni 1214 Saka dan 1310 Saka.
——————————————————————————————————————————————-
Candi Sanggrahan
Secara administratif Candi Sanggrahan berada di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu. Tepatnya berada di antara pemukiman warga. Mengenai rute dan informasi selengkapnya tentang Candi Sanggrahan  dapat diakses pada halaman Rute dan Informasi.
Candi yang dikenal oleh sebagian masyarakat dengan sebutan candi cungkup ini, diriwayatkan dalam Kitab Negarakertagama sebagai tempat pendharmaan Bhre Paguhan dari masa Kerajaan Majapahit[1]. Sedang dalam cerita rakyat Sina Wijoyo Suyono, Candi Sanggrahan dikenal sebagai tempat yang dipergunakan untuk beristirahatnya rombongan pembawa jenazah Gayatri (Rajapadmi) sebelum didharmakan di Candi Gayatri[2].
Dari segi arsitektur, Candi Sanggrahan merupakan komplek percandian yang dibangun dari kombinasi batu bata dengan batu andesit. Komponen batu-bata secara umum mendominasi komplek percandian ini, yakni meliputi bagian selasar, gerbang, dan candi-candi perwara. Sedangkan batuan andesit hanya digunakan untuk menyusun bangunan utama.
Secara kenampakan Candi Sanggrahan memiliki kemiripan dengan Candi Surowono, yakni memiliki relief tantri di bagian kaki. Bahkan dimensi bentuknya juga serupa, baik bentuk muka dan tubuh bangunan yang memanjang ke belakang. Dibagian tubuh candi juga terdapat panil-panil. Panil panil tersebut biasanya berisi relief, namun panil-panil pada Candi Sanggrahan ini polos. Belum dapat dipastikan apakah panil-panil tersebut merupakan hasil dari renovasi dinas purbakala ataukah karena dulunya pembangunan candi ini belum selesai. Terus terang kami tidak menjumpai jurukunci Candi Sanggrahan, sehingga kami tidak memperoleh informasi yang akurat mengenai candi ini.
——————————————————————————————————————————————-
Goa Selomangleng
Seperti halnya Goa Selomangleng yang berada di Kota Kediri, Goa Selomangleng yang berada di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu ini hanyalah berupa cerukan pada sebuah batu. Dinding ceruk Goa Selomangleng ini berpahatkan relief arjunawiwaha, yakni relief yang mengisahkan tentang Bathara Indra yang mengutus bidadari untuk menggoda Arjuna yang sedang bertapa.
Yang unik dari Goa Selomangleng adalah keberadaan relief kala berukuran raksasa yang terpahat di atas pintu goa. Relief kala biasanya berada di ambang pintu ataupun di atas relung-relung candi, sehingga keberadaanya pada Goa ini dimungkinkan memiliki fungsi yang sama dengan yang terpahat di atas pintu candi pada umumnya.
——————————————————————————————————————————————-
Candi Gayatri
Candi Gayatri atau dikenal juga dengan Candi Boyolangu ini berada di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu. Candi Gayatri adalah komplek percandian yang terdiri dari candi induk dan dua buah candi perwara. Seluruh banguan pada komplek Candi Gayatri ini berbahan dasar batu bata, hanya beberapa komponen saja yang terbuat dari batu andesit, misalnya umpak dan arca.
Menurut kitab Negarakertagama candi ini merupakan tempat pendharmaan Gayatri. Semasa hidupnya Gayatri dikenal sebagai pendeta wanita Budha Kerajaan Majapahit dengan gelar Rajapadmi, sehingga Gayatri didharmakan sebagai Dhyani Budha Wairocana.  Candi tempat pendharmaan Gayatri ini bernama Pradjnaparamitapuri, dan dibangun pada tahun 1281 Saka hingga 1311 Saka sesuai dengan angka tahun yang terpahat pada umpak[1]. Pendirian Candi Gayatri yang bertahap tersebut dapat dilihat hingga kini, yakni adanya struktur hiasan candi yang tumpang tindih dengan struktur kaki candi.
——————————————————————————————————————————————-
Situs Makam Soka
UPDATE APRIL 23, 2011 OLEH TRAVELLERS2009
Situs Makam Soka merupakan situs peninggalan bersejarah yang terletak di Dusun Soka, Desa Karangsari, Kecamatan Rejotangan. Ditilik dari segi lokasinya, Situs Makam Soka memiliki kesamaan dengan Situs Makam Ki Ageng Sengguruh, yakni berada di area pemakaman umum. Situs bersejarah yang terletak di area pemakaman biasanya dianggap oleh masyarakat disekitarnya sebagai cikal bakal atau sadranan yang digunakan untuk upacara ritual dalam berbagai kegiatan. Kebudayaan seperti ini masih berjalan hingga sekarang, sehingga situs-situs seperti Situs Makam Soka masih jarang dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi maupun penelitian.
Situs Makam Soka terdiri dari sebuah prasasti, tumpukan batu-batu candi, dan beberapa batu dengan pahatan dan bentuk yang aneh. Berdasarkan catatan yang termuat dalam Inventaris Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak di Kabupaten Tulunggagung, diketahuai bahwa prasasti di Situs Makam Soka berangka tahun 1123 Saka atau 1201 Masehi. Sehingga kemungkinan besar Situs Makam Soka merupakan peninggalan sejarah dari era Kerajaan Kadiri.
Ada satu hal yang janggal pada prasasti yang ditengarahi berasal dari era Kerajaan Kadiri ini, yakni adanya lambang surya dalam prasati tersebut. Meski sedikit berbeda dengan Surya Majapahit, tetap saja keberadaan lambang surya tersebut menimbulkan keambiguan. Pasalnya prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Kadiri selalu mencatumkan lambang candrakapala, misalnya saja pada Prasati Panumbangan yang berada di Candi Plumbangan Blitar. Hingga kini belum ada titik terang mengenai kejanggalan tersebut, terutama karena masih minimnya data sejarah dan informasi dari masyarakat sekitar mengenai Situs Makam Soka.

Senin, 25 Juli 2011

Kerajaan Kutai

A. Pertumbuhan dan Perkembangan
Letak geografis Kerajaan Kutai yang berada menjorok ke daerah pedalaman,
menyebabkan Kutai menjadi tempat yang menarik sebagai persinggahan bagi para
pedagang dari Cina dan India. Hal inilah yang menyebabkan pengaruh Hindu masuk
ke Kutai, serta membuat kegiatan perdagangan menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat Kutai.
Letak dari Kutai yang berada disekitar aliran Sungai Mahakam merupakan potensi
yang besar bagi penduduk Kutai untuk melakukan kegiatan bertani.
Masyarakat di kerajaan Kutai tertata, tertib, dan teratur. Hal ini disebabkan oleh
adanya sistem pemerintahan raja. Selain itu mereka juga sangat menjaga akar tradisi
budaya nenek moyangnya. Dalam kaitan ini, mereka melestarikan tradisi
megalithikum melalui pembuatan tiang batu (yupa) untuk mengenang apa yang
mereka buat.
                   
Kelompok 1
Andika G. P., Arbiarso W., Pilar P., R. Andhika
Masyarakat Kutai juga adalah masyarakat yang respon terhadap perubahan dan
kemajuan budaya. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan masyarakat Kutai yang
menerima dan mengadaptasi budaya luar (India) ke dalam kehidupan masyarakat.
Selain dari itu masyarakat Kutai dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi
spirit keagamaan dalam kehidupan kebudayaanya. Penyebutan Brahmana sebagai
pemimpin spiritual dan ritual keagamaan dalam yupa-prasasti yang mereka tulis
menguatkan kesimpulan itu.
Dalam Kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis antara Raja
Mulawarman dengan kaum Brahmana, seperti dijelaskan dalam prasasti Yupa, bahwa
Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor ekor sapi kepada kaum Brahmana
di dalam tanah suci bernama Waprakeswara.
B. Masa Kejayaan
Masa kejayaan Kerajaaan Kutai berada pada massa pemerintahan Raja
Mulawarman. Hal ini dibuktikan dengan pemberian sedekah kepada kaum Brahmana
berupa 20.000 ekor sapi. Jumlah 20.000 ekor sapi ini membuktikan bahwa pada masa
itu kerajaan Kutai telah mempunyai kehidupan yang makmur dan telah mencapai
massa kejayaannya.
C. Keruntuhan
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia
tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum
Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan
Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama
(Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam
sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam
yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara. (wikipedia.org)
2

KERAJAAN MATARAM KUNO

Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8) adalah kerajaan Hindu di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Berdasarkan catatan yang terdapat pada prasassti yang ditemukan, Kerajaan Mataram Kuno bermula sejak pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ia memerintah Kerajaan Mataram Kuno hingga 732M.
Komplek Candi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan peninggalan candi Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Atas : Komplek Candi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan peninggalan candi Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno mempunyai dua latar belakang keagamaan yang berbedaa, yakni agama Hindu dan Buddha.
Peninggalan bangunan suci dari keduanya antara lain ialah Candi Geding Songo, kompleks Candi Dieng, dan kompleks Candi Prambanan yang berlatar belakang Hindu. Adapun yang berlatar belakang agama Buddha antara lain ialah Candi Kalasan, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.
Kerajaan Mataram di Jawa Tengah
Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah terdiri dari dua wangsa (keluarga), yaitu wangsa Sanjaya dan Sailendraa. Pendiri wangsa Sanjaya adalah Raja Sanjaya. Ia menggantikan raja sebelumnya, yakni Raja Sanna. Konon, Raja Sanjaya telah menyelamatkan Kerajaan Mataram Kuno dari kehancuran setelah Raja Sanna wafat.
Setelah Raha Sanjaya wafat, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dipegang oleh Dapunta Sailendra, pendiri wangsa Sailendra. Para raja keturunan wangsa Sanjaya seperti Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, dan Sri Maharaja Rakai Garung merupakan raja bawahan dari wangsa Sailendra. Oleh Karena adanya perlawanan yang dilakukan oleh keturunan Raja Sanjaya, Samaratungga (raja wangsa Sailendra) menyerahkan anak perempuannya, Pramodawarddhani, untuk dikawinkan dengan anak Rakai Patapan, yaitu Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya).

Rakai Pikatan kemudian menduduki takhta Kerajaan Mataram Kuno. Melihat keadaan ini, adik Pramodawarddhani, yaitu Balaputeradewa, mengadakan perlawanan namun kalah dalam peperangan. Balaputeradewa kemudian melarikan diri ke P. SUmatra dan menjadi raja Sriwijaya. Pada masa Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu berkuasa, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran Kerajaan Mataram Kuno. Ketika Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa berkuasa, kerajaan ini berakhir dengan tiba-tiba. Diduga kehancuran kerajaan ini akibat bencana alam karena letusan G. Merapi, Magelang, Jawa Tengah.
Kerajaan Mataram di Jawa Timur
Setelah terjadinya bencana alam yang dianggap sebagai peristiwa pralaya, maka sesuai dengan landasan kosmologis harus dibangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru pula. Pada abad ke-10, cucu Sri Maharaja Daksa, Mpu Sindok, membangun kembali kerajaan ini di Watugaluh (wilayah antara G. Semeru dan G. Wilis), Jawa Timur. Mpu Sindok naik takhta kerajaan pada 929 dan berkuasa hingga 948. Kerajaan yang didirikan Mpu SIndok ini tetap bernama Mataram. Dengan demikian Mpu Sindok dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana. Perpindahan kerajaan ke Jawa Timur tidak disertai dengan penaklukan karena sejak masa Dyah Balitung, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah meluass hingga ke Jawa Timur. Setelah masa pemerintahan Mpu Sindok terdapat masa gelap sampai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga (1020). Sampai pada masa ini Kerajaan Mataram Kuno masih menjadi saatu kerajaan yang utuh. Akan tetapi, untuk menghindari perang saudara, Airlangga membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Kerajaan Pangjalu dan Janggala.

KERAJAAN KEDIRI

Kerajaan Kediri adalah sebuah kerajaan besar di Jawa Timur yang berdiri pada abad ke-12. Kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno. Pusat kerajaanya terletak di tepi S. Brantas yang pada masa itu telah menjadi jalur pelayaran yang ramai.
Kerjasama tentara Mongol dan pasukan Arya Wiraraja dapat mengalahkan pasukan Kediri di bawah pimpinan Jayakatwang. Kerajaan Kediri lahir dari pembagian Kerajaan Mataram oleh Raja Airlangga (1000-1049). Pemecahan ini dilakukan agar tidak terjadi perselisihan di antara anak-anak selirnya. Tidak ada bukti yang jelas bagaimana kerajaan tersebut dipecah dan menjadi beberapa bagian. Dalam babad disebutkan bahwa kerajaan dibagi empat atau lima bagian. Tetapi dalam perkembangannya hanya dua kerajaan yang sering disebut, yaitu Kediri (Pangjalu) dan Jenggala. Samarawijaya sebagai pewaris sah kerajaan mendapat ibukota lama, yaitu Dahanaputra, dan nama kerajaannya diubah menjadi Pangjalu atau dikenal juga sebagai Kerajaan Kediri. Perkembangan Kerajaan Kediri
Patung Airlangga dalam perwujudan Dewa Wisnu, salah satu peninggalan Kerajaan Kediri Dalam perkembangannya Kerajaan Kediri yang beribukota Daha tumbuh menjadi besar, sedangkan Kerajaan Jenggala semakin tenggelam. Diduga Kerajaan Jenggala ditaklukkan oleh Kediri. Akan tetapi hilangnya jejak Jenggala mungkin juga disebabkan oleh tidak adanya prasasti yang ditinggalkan atau belum ditemukannya prasasti yang ditinggalkan Kerajaan Jenggala. Kejayaan Kerajaan Kediri sempat jatuh ketika Raja Kertajaya (1185-1222) berselisih dengan golongan pendeta. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

Namun kemudian kedudukannya direbut oleh Ken Arok. Diatas bekas Kerajaan Kediri inilah Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singasari, dan Kediri berada di bawah kekuasaan Singasari. Ketika Singasari berada di bawah pemerintahan Kertanegara (1268-1292), terjadilah pergolakan di dalam kerajaan. Jayakatwang, raja Kediri yang selama ini tunduk kepada Singasari bergabung dengan Bupati Sumenep (Madura) untuk menjatuhkan Kertanegara. Akhirnya pada tahun 1292 Jayakatwang berhasil mengalahkan Kertanegara dan membangun kembali kejayaan Kerajaan Kediri. Runtuhnya Kediri
Arca ini menggambarkan seorang laki-laki pada masa Kerajaan Kediri. Setelah berhasil mengalah kan Kertanegara, Kerajaan Kediri bangkit kembali di bawah pemerintahan Jayakatwang. Salah seorang pemimpin pasukan Singasari, Raden Wijaya, berhasil meloloskan diri ke Madura. Karena perilakunya yang baik, Jayakatwang memperbolehkan Raden Wijaya untuk membuka Hutan Tarik sebagai daerah tempat tinggalnya. Pada tahun 1293, datang tentara Mongol yang dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan untuk membalas dendam terhadap Kertanegara. Keadaan ini dimanfaatkan Raden Wijaya untuk menyerang Jayakatwang. Ia bekerjasama dengan tentara Mongol dan pasukan Madura di bawah pimpinan Arya Wiraraja untuk menggempur Kediri. Dalam perang tersebut pasukan Jayakatwang mudah dikalahkan. Setelah itu tidak ada lagi berita tentang Kerajaan Kediri.

KERAJAAN SINGASARI

Kerajaan Singasari (1222-1293) adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara vang didirikan oleh Ken Arok pada 1222. Kerajaan Singasari mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Raja Kertanegara (1268-1292) yang bergelar Maharajadhiraja Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa.
Candi Singasari disebut juga Candi Tumapel berupa kuil Syiwa yang besar dan tinggi. Ken Arok merebut daerah Tumapel, salah satu wilayah Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Tunggul Ametung, pada 1222. Ken Arok pada mulanya adalah anak buah Tunggul Ametung, namun ia membunuh Tunggul Ametung karena jatuh cinta pada istrinya, Ken Dedes. Ken Arok kemudian mengawini Ken Dedes. Pada saat dikawini Ken Arok, Ken Dedes telah mempunyai anak bernama Anusapati yang kemudian menjadi raja Singasari (1227-1248). Raja terakhir Kerajaan Singasari adalah Kertanegara. Ken Arok
Ketika di pusat Kerajaan Kediri terjadi pertentangan antara raja dan kaum Brahmana, semua pendeta melarikan diri ke Tumapel dan dilindungi oleh Ken Arok. Pada 1222, para pendeta Hindu kemudian menobatkan Ken Arok sebagai raja di Tumapel dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Adapun nama kerajaannya ialah Kerajaan Singasari. Berita pembentukan Kerajaan Singasari dan penobatan Ken Arok menimbulkan kemarahan raja Kediri, Kertajaya. la kemudian memimpin sendiri pasukan besar untuk menyerang Kerajaan Singasari. Kedua pasukan bertempur di Desa Ganter pada 1222. Ken Arok berhasil memenangkan pertempuran dan sejak itu wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri dikuasai oleh Singasari.
Candi Jago terletak di Malang, Jawa Timur, merupakan peninggalan Kerajaan Singasari yang dibangun untuk Raja Wisnuwardhana, raja Singasari, pada pertengahan abad ke-13. Dalam Negarakertagama, candi ini merupakan salah satu tempat yang dikunjungi Hayam Wuruk pada 1359. Kertanegara
Ken Arok memerintah Kerajaan Singasari hanya lima tahun. Pada 1227 ia dibunuh oleh Anusapati, anak tirinya (hasil perkawinan Tunggul Ametung dan Ken Dedes). Sepuluh tahun kemudian Anusapati dibunuh oleh saudara tirinya, Tohjaya (putra Ken Arok dengan Ken Umang).

Kematian Anusapati menimbulkan kemarahan Ranggawuni, putra Anusapati. Ranggawuni langsung menyerang Tohjaya. Pasukan Tohjaya kalah dalam pertempuran dan meninggal dunia dalam pelarian. Pada 1248 Ranggawuni menjadi raja Singasari bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Ranggawuni memerintah Kerajaan Singasari selama 20 tahun (1248-1268) dan dibantu oleh Mahisa Cempaka (Narasingamurti). Ranggawuni wafat pada 1268 dan digantikan oleh putranya, Kertanegara. la memerintah Kerajaan Singasari selama 24 tahun (1268-1292). Ekspedisi Pamalayu
Kertanegara terus memperluas pengaruh dan kekuasaan Kerajaan Singasari. Pada 1275 ia mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya sekaligus menjalin persekutuan dengan Kerajaan Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan itu dikenal dengan nama Pamalayu. Kertanegara berhasil memperluas pengaruhnya di Campa melalui perkawinan antara raja Campa dan adik perempuannya. Kerajaan Singasari sempat menguasai Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku).
Serangan Pasukan Mongol
Pasukan Pamalayu dipersiapkan Kertanegara untuk menghadapi serangan kaisar Mongol, Kubilai Khan, yang berkuasa di Cina. Utusan Kubilai Khan beberapa kali datang ke Singasari untuk meminta Kertanegara tunduk di bawah Kubilai Khan. Apabila menolak maka Singasari akan diserang. Permintaan ini menimbulkan kemarahan Kertanegara dengan melukai utusan khusus Kubilai Khan, Meng Ki, pada 1289. Kertanegara menyadari tindakannya ini akan dibalas oleh pasukan Mongol. la kemudian memperkuat pasukannya di Sumatera. Pada 1293 pasukan Mongol menyerang Kerajaan Singasari. Namun Kertanegara telah dibunuh oleh raja Kediri, Jayakatwang, setahun sebelumnya. Singasari kemudian dikuasai oleh Jayakatwang.